Marah Karena Kasih

Renungan

Ayat bacaan dari Yesaya 1:18
"Marilah, baiklah kita beperkara! -- firman TUHAN -- Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba".


Saudaraku terkasih,
Sejak kita hadir ke dunia ini, kita ini sudah berdosa. Bahkan selama perjalanan hidup ini juga, barangkali masih sering kita berbuat dosa dalam berbagai bentuk yang tidak sesuai firmanNya. Sewajarnya ini menimbulkan amarah Tuhan sehingga hukuman layak kita terima. Tapi kita patut bersyukuri, betapa tidak, Tuhan yang kita sembah bukan seperti itu, karena Tuhan justru terlebih suka adanya pertobatan pada kita “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Pet 3:9).
Sebesar/seburuk apapun dosa kita saat ini, firmanNya yang telah menjaminkan bahwa semuanya akan bersih dan putih seperti salju/bulu domba (Yesaya 1:18). Dan itu bukan janji lagi tetapi sudah tersedia, karena DarahNya sendiri yang telah membasuh semuanya. O betapa kita bangga dan berbahagia ya dengan anugeraNya yang luar biasa ini. Hanya tinggal kesediaan kita, apakah kita mau atau tidak.
Ada saatnya memang Tuhan pernah marah, tetapi saya yakini, bahwa ada sesuatu hikmah yang bisa kita tarik  :
- KemarahanNya selalu ada dasar/alasannya, misalnya ketika umatNya tidak setia dan menyembah ilah lain, ataupun karena dosa dosa lainnya.
- Amarah Tuhan itu selalu dalam kendaliNya. "Oleh karena nama-Ku Aku menahan amarah-Ku dan oleh karena kemasyhuran-Ku Aku mengasihani engkau, sehingga Aku tidak melenyapkan engkau" (Yesaya 48:9).
- KesabaranNya selalu jauh melebihi amarahNya. "TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah” (Nahum 1:3a).
- Tuhan marah karena Dia ingin kita lebih baik dari sebelumnya. “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan" (Luk 15:7).
Kalau Tuhan marah untuk menjadikan kita lebih baik setelahnya, lalu pertanyaan bagi kita, saat kita marah, di mana posisi marah kita ? di jenis yang mana?, apakah marah yang untuk perbaikan/pengembangan diri atau sebaliknya malah menghancurkan orang lain yang kita marahi. Semoga tetap kita teladani dasar Tuhan saat memarahi umatNya.
Saudaraku, agar marah kita menjadikan sesama menjadi lebih baik, maukah kita melakukan langkah “AMIN” ini :
1. Ampuni dulu sebelum engkau memarahi mereka.
Berilah ruang pengampunan, seperti Tuhan yang dengan rela menjadi hina dan mati hanya untuk menghapus semua dosa kesalahan kita. Seperti firman Tuhan tidak ada batasan jumlah kita mengampuni “Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Matius 18:22).
2. Misi Transformasi (perubahan). Dorong mereka melakukan perubahan ke arah Pertobatan. Kalau mereka memang bersalah, kita punya tangggung jawab menggiring mereka menyesali kesalahan mereka dan bukan malah membuat kehidupan mereka semakin memburuk dari sebelumnya
3. INi Kesempatan kita Melayani sesama
Jikalau ini terjadi kepada kita, kita justru bersyukur, ada kesempatan melayani Tuhan melalui mereka yang menyakiti atau yang bersalah kepada kita. O betapa indahnya jikalau Tuhan memampukan kita melakukan ini.

Kiranya Tuhan senantiasa memberkati hidup dan pelayanan kita. Amin.

Salam Kesejukan
=Strs=

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Tuhan Kau Buat Menangis

Tuhan Sanggup Mengubah Tangisan menjadi Sukacita